Pages

Monday, 22 September 2008

Persiapan Tim Tim Formula 1 Hadapi Balap Malam Pertama di Singapura

[ Senin, 22 September 2008 ]

Kamar Hotel Harus Gelap Total

Akhir pekan ini, balap malam pertama Formula 1 diselenggarakan di Singapura. Berkat teknologi, yang jadi tantangan utama bukanlah terangnya lampu atau setelan mobil. Melainkan jam tidur dan kondisi badan pembalap!

Ulasan Azrul Ananda

Seperti apa balapan Formula 1 di malam hari? Sebenarnya, secara teknis sudah bukan masalah. Balap malam menggunakan lampu penerangan ala stadion sudah bertahun-tahun dilakukan di Amerika Serikat. Bahkan MotoGP, ajang roda dua paling bergengsi, sudah lebih dulu menerapkannya awal tahun ini di Qatar.

Jadi, fokus tim menjelang Grand Prix Singapura akhir pekan ini bukanlah soal penerangan. Yang paling penting adalah kondisi badan para personel -khususnya pembalap-- menghadapi jam kerja yang bakal berbeda dari biasanya.

"Normal"-nya, saat hari lomba, personel tim sudah hadir di sirkuit pukul 7 atau 8 pagi. Lalu melakukan berbagai persiapan. Pembalap datang dua atau tiga jam kemudian, melakukan persiapan sendiri. Kemudian, start lomba diselenggarakan pukul 14.00. Di negara mana pun di seluruh dunia, jam start tidak jauh beda dari itu. Paling maju atau mundur sejam.

Kali ini, di Singapura, lomba berlangsung di malam hari. Berarti, ada perubahan drastis dalam jam kerja. Beberapa tim, seperti McLaren-Mercedes dan BMW-Sauber, sudah melakukan persiapan khusus untuk mengatasinya.

Kuncinya, ternyata, ada pada adaptasi. Tapi, para pembalap bukannya diminta untuk beradaptasi dengan jam Singapura. Para pembalap justru DILARANG beradaptasi dengan jam Singapura!

"Singapura bakal menjadi tantangan unik bagi setiap anggota tim kami. Dokter kami telah menyiapkan jadwal presisi yang harus ditaati, karena semua kegiatan berlangsung setelah tengah hari," tutur Lewis Hamilton, bintang utama McLaren. "Pada dasarnya, kami tak boleh beradaptasi dengan waktu lokal. Program latihan kami dirancang agar kondisi berada di puncak setelah lewat tengah hari. Jadi, kami harus terus membiasakan diri dengan jam di Eropa," tambahnya.

Kata Hamilton, tidak beradaptasi ini bakal lebih sulit daripada beradaptasi. Sebab, badan kita secara alami ingin beradaptasi. "Bagi kami para pembalap, jam tidur dan bangun bakal sama persis dengan di Eropa. Kami baru bangun siang hari untuk makan pagi, lalu makan malam pukul 1 dini hari, kemudian baru boleh tidur pukul 3 pagi," ungkapnya.

Rekan Hamilton, Heikki Kovalainen, membenarkan aturan jam tersebut. "Tim kami telah melakukan segalanya untuk memastikan timing hidup tidak mengganggu performa dan fisik kami," ucapnya.

Kovalainen menambahkan, persiapan itu ditegaskan kepada hotel tempat mereka menginap nanti. "Kamar hotel bakal dibuat gelap total supaya kami bisa tidur sampai siang. Hotel diberitahu agar pembersih kamar tidak masuk ke kamar sampai siang hari. Telepon juga tidak boleh berdering. Pada dasarnya, kami akan diisolasi dari jam kerja normal hotel," paparnya.

Bila kebanyakan pembalap menganggap ini sebagai tantangan berat, tidak demikian dengan pembalap senior BMW-Sauber, Nick Heidfeld. Bagi pembalap Jerman itu, lomba di malam hari akan sangat menguntungkan.

"Saya ini orang malam. Saya suka tidur sangat telat, bukan tipe yang suka bangun pagi. Karena itu, ritme akhir pekan ini seharusnya cocok untuk saya," ujarnya.

Karena kebiasaan itu pula, Heidfeld mengaku bakal "hidup normal" di Singapura. Apalagi, dia mengaku ingin bisa jalan-jalan. "Saya belum pernah ke Singapura. Dulu hanya duduk di bandara. Saya yakin (Singapura) adalah tempat yang sangat 'hidup' dan menarik," pungkasnya. (www.jawapos.co.id)
universitas surabaya gitu loh

No comments: