[ universitas surabaya gitu loh, Kamis, 09 Oktober 2008 ]
SURABAYA - Manajemen hotel internasional di Surabaya terus berkurang. Pasalnya, Hyatt Regency di kawasan Basuki Rachmat akan berganti nama menjadi Hotel Bumi Surabaya per 1 November nanti.
Pergantian ini menambah panjang daftar jaringan hotel internasional yang mengakhiri kontraknya di Surabaya selama empat tahun terakhir. Sebelumnya, jaringan internasional yang juga berakhir kontraknya adalah Radisson, Mandarin Oriental, dan Hilton.
Public Relations Manager Hotel Hyatt Regency Surabaya Prima Soemarso mengatakan, kontrak akan berakhir pada 31 Oktober sehingga pada 1 November pihaknya berganti manajemen. ''Hanya itu yang bisa kami jelaskan. Akan ada keterangan lebih lanjut setelah manajemen siap,'' ujarnya kemarin (9/10).
Dihubungi terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim Yulianto Sochebu menuturkan, berakhirnya kontrak dengan brand atau manajemen asing adalah soal biasa. Dia menduga pemilik hotel bisa menemukan sistem pengelolaan yang setara dengan dengan standar internasioal. Atau, bisa juga biaya kontrak manajemen asing kian mahal sehingga tidak diperpanjang. ''Meski berakhir, bisa juga brand itu kembali lagi nanti,'' sebutnya.
Menurut dia, kontrak brand hotel internasional umumnya berakhir pada tahun ketiga karena pemilik bisa mengambil alih pasar. Berakhirnya kontrak bisa juga karena kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Sebab, tidak semua brandasing bisa eksis di semua tempat. (ina/dwi)
Pergantian ini menambah panjang daftar jaringan hotel internasional yang mengakhiri kontraknya di Surabaya selama empat tahun terakhir. Sebelumnya, jaringan internasional yang juga berakhir kontraknya adalah Radisson, Mandarin Oriental, dan Hilton.
Public Relations Manager Hotel Hyatt Regency Surabaya Prima Soemarso mengatakan, kontrak akan berakhir pada 31 Oktober sehingga pada 1 November pihaknya berganti manajemen. ''Hanya itu yang bisa kami jelaskan. Akan ada keterangan lebih lanjut setelah manajemen siap,'' ujarnya kemarin (9/10).
Dihubungi terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim Yulianto Sochebu menuturkan, berakhirnya kontrak dengan brand atau manajemen asing adalah soal biasa. Dia menduga pemilik hotel bisa menemukan sistem pengelolaan yang setara dengan dengan standar internasioal. Atau, bisa juga biaya kontrak manajemen asing kian mahal sehingga tidak diperpanjang. ''Meski berakhir, bisa juga brand itu kembali lagi nanti,'' sebutnya.
Menurut dia, kontrak brand hotel internasional umumnya berakhir pada tahun ketiga karena pemilik bisa mengambil alih pasar. Berakhirnya kontrak bisa juga karena kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Sebab, tidak semua brandasing bisa eksis di semua tempat. (ina/dwi)


No comments:
Post a Comment