Pages

Thursday, 9 October 2008

Saham Unggulan BEI Undervalued

universitas surabaya gitu loh, Kamis, 09 Oktober 2008 ]
Fundamental Kukuh, Harga Terlalu Murah 
SURABAYA - Di tengah kepanikan, selalu tersimpan harapan. Jika jeli memelototi angka-angka statistik emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini adalah momentum yang tepat untuk membeli saham. Mengapa? Harga saham-saham unggulan sudah undervalued (di bawah nilai wajar). Ini bisa dilihat dengan membandingkan PER (price to earning ratio) yang rendah, sementara itu kinerja keuangan masih sangat indah.

Selain itu, juga bisa dipakai analisis teknikal. Kemerosotan hingga hampir 50 persen dalam kurun kurang dari setahun, sudah sangat rendah. Lupakan situasi global. Harga-harga saham unggulan saat ini sudah sangat murah. Karena itu tak ada alasan untuk takut membeli. Hanya, yang tidak bisa diprediksi, berapa lama hingga indeks kembali melambung tinggi.

Pengamat pasar modal Alfatih mengakui tidak ada masalah dengan fundamental perusahaan yang sahamnya tercatat di BEI. ''Dalam sepekan terakhir ini, pasar tidak digerakan oleh fundamental. Namun lebih karena sentimen dan kebutuhan likuiditas,'' kata Alfatih kepada Jawa Pos kemarin.

Kata Alfatih, fund manager membutuhkan dana tunai sehingga menjual portofolio efek meski saham perusahaan yang mereka koleksi bagus. "Untuk investor ritel, pilihan menjual karena terbatasnya dana yang mereka miliki. Sehingga saat indeks anjlok ya pilihannya keluar.''

Memang sejumlah saham unggulan kehilangan kapitalisasi pasar dalam jumlah besar. Jika dihitung sejak awal tahun hingga saat halting kemarin, saham seperti PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT Astra International (ASII), dan Bank Mandiri kehilangan kapitalisasi antara 30-63 persen. Turunnya harga ini membuat PER (price to earning ratio) efek-efek tersebut menjadi sangat rendah (lihat grafis). Karena itu, para pengamat pasar modal menyarankan agar investor tidak emosional dalam mengambil keputusan langsung menjual saham dengan fundamental bagus. ''Rasionalnya seperti itu. Kalau irasional, ya menjual sebelum harganya turun lagi akibat krisis finansial,'' kata Leo Herlambang.

Namun Ikhsan Binarto menyarankan agar investor menahan aksi jual. Tentu saja dengan mempertimbangkan produk emiten maupun kinerjanya. Setelah itu menambah saham saat harganya masih undervalued. ''Saham yang perlu ditahan adalah saham di sektor perbankan maupun pertambangan batu bara.'' 

Ditambahkan Alfatih, pembelian tersebut harus dilakukan secara rasional. Yakni dengan bertahap. "Saat ini market dunia belum pulih dari krisis. Masih menunggu hasil bailout AS dan Inggris yang hasilnya tidak bisa serta merta terwujud. Karena itu investor lebih aman pegang cash.'' (aan/fan) 

No comments: